Anggapan bahwa masyarakat Kurdi identik dengan ateisme kembali memicu reaksi luas di Timur Tengah. Dalam beberapa waktu terakhir, warga Kurdi dari berbagai latar belakang menyuarakan penegasan bahwa identitas keagamaan merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan jati diri mereka.
Polemik ini mencuat seiring beredarnya sejumlah narasi di media sosial yang mengaitkan Kurdi dengan sikap antiagama, khususnya Islam. Narasi tersebut memantik respons keras dari kalangan Kurdi yang menilai stigma itu tidak adil dan menyederhanakan realitas sosial mereka.
Dalam sebuah pernyataan berbahasa Arab yang beredar luas, ditegaskan bahwa setiap penghinaan terhadap Islam dengan alasan apa pun, termasuk dalih memerangi ekstremisme, adalah tindakan individual yang tidak mewakili rakyat Kurdi. Pernyataan tersebut menekankan bahwa mayoritas masyarakat Kurdi adalah Muslim.
Penghinaan terhadap Islam dipandang sebagai penghinaan langsung terhadap identitas bangsa Kurdi itu sendiri. Islam dan Al-Qur’an disebut sebagai nilai suci dan garis merah yang tidak dapat disentuh atau direndahkan dengan alasan apa pun.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa siapa pun yang melampaui batas tersebut tidak mewakili nilai-nilai Kurdi. Pelaku penghinaan terhadap agama diposisikan sebagai pihak yang berseberangan dengan budaya dan jati diri masyarakat Kurdi.
Penegasan ini bukan muncul dalam ruang hampa. Dalam sejarahnya, Kurdi dikenal sebagai salah satu pilar penting umat Islam sejak masa awal penyebaran Islam hingga hari ini. Keberadaan mereka tercatat dalam berbagai fase sejarah peradaban Islam.
Banyak kalangan mengingatkan bahwa bangsa Kurdi tidak membutuhkan pengakuan baru terkait keislaman mereka. Namun di tengah situasi penuh fitnah dan polarisasi, pengulangan fakta-fakta dasar dianggap perlu.
Dalam bidang pendidikan keagamaan, masyarakat Kurdi dikenal memiliki perhatian besar terhadap bahasa Arab. Di banyak madrasah Islam Kurdi, pengajaran bahasa Arab justru sangat menonjol dan dijadikan fondasi pendidikan agama.
Kitab-kitab dasar gramatika Arab seperti Al-Amtsilah, Al-Bina’, Al-‘Izzi, hingga Alfiyah Ibnu Malik masih diajarkan dan dihafalkan oleh para pelajar Kurdi. Tradisi ini dipandang sebagai bukti kedekatan mereka dengan khazanah Islam klasik.
Peran ulama Kurdi dalam sejarah Islam juga kerap disorot kembali. Sejumlah tokoh Kurdi pernah menduduki posisi penting dalam bidang fatwa, peradilan, dan pendidikan Islam, bahkan di pusat-pusat kota Arab.
Nama-nama ulama Kurdi dari masa lampau hingga kontemporer disebut sebagai rujukan keilmuan lintas wilayah. Kontribusi mereka menegaskan bahwa Kurdi bukan hanya bagian dari umat Islam, tetapi juga penggerak ilmu-ilmu keislaman.
Selain aspek keilmuan, memori kolektif tentang solidaritas sosial juga diangkat. Hubungan antara Kurdi dan komunitas Muslim lain di Irak, khususnya Ahlus Sunnah, diwarnai oleh sejarah saling menolong di masa sulit.
Pengalaman menerima pengungsi, baik dari wilayah Arab maupun dari Kurdi sendiri pada era konflik Irak–Iran, sering dijadikan contoh konkret keterikatan sosial dan religius antarkomunitas.
Dalam konteks politik kontemporer, sebagian pihak dinilai berusaha mengaitkan masyarakat Kurdi dengan kelompok atau ideologi tertentu yang bersifat sekuler atau bahkan antiagama. Upaya ini ditolak karena dianggap tidak mencerminkan realitas masyarakat secara menyeluruh.
Penolakan serupa juga diarahkan pada kecenderungan mengidentikkan suatu bangsa dengan organisasi atau gerakan tertentu. Dalam pandangan yang berkembang, baik Kurdi, Arab, maupun bangsa lain memiliki keragaman internal yang tidak bisa diseragamkan.
Seruan yang mengemuka menempatkan identitas Islam sebagai landasan bersama. Prinsip keimanan dipandang lebih utama daripada perbedaan etnis, bahasa, atau wilayah.
Ayat tentang penciptaan manusia sebagai bangsa dan suku untuk saling mengenal kembali dikutip untuk menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah etnisitas, melainkan ketakwaan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi peringatan terhadap ajakan fitnah dan perpecahan yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi atau kritik ideologis, namun berujung pada penistaan agama.
Di tengah derasnya arus opini global, masyarakat Kurdi tampak semakin aktif menjelaskan posisi mereka. Identitas keagamaan kembali ditekankan sebagai bagian sah dan hidup dari realitas Kurdi masa kini.
Dengan demikian, bangkitnya suara-suara ini mencerminkan upaya warga Kurdi menepis stigma ateisme dan menegaskan bahwa agama, khususnya Islam, tetap menjadi elemen penting dalam jati diri dan sejarah mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar