Minggu, 25 Januari 2026

Ethiopia Gelar Air Show, Somalia Jadi Fokus Perhatian

Ethiopia kembali menjadi sorotan internasional dengan digelarnya Aviation Expo 2026 yang bertepatan dengan perayaan 90 tahun Angkatan Udara Ethiopia. Acara ini mengusung tema “Flying Forward, Building a Shared Future.”

Kehadiran perdana menteri Abiy Ahmed Ali menegaskan ambisi Ethiopia memperkuat sektor penerbangan dan aerospace sebagai pusat regional di Afrika. Expo ini juga menjadi panggung bagi mitra nasional maupun internasional untuk menunjukkan teknologi dan kemampuan militer terbaru.

Dalam konteks regional, pameran ini menimbulkan perhatian karena mengingat kembali invasi Ethiopia ke Somalia pada 2006–2009, yang dikenal sebagai intervensi Ethiopia dalam Perang Saudara Somalia.

Invasi tersebut awalnya bertujuan menggulingkan Islamic Courts Union (ICU) dan memasang Transitional Federal Government (TFG) yang didukung internasional, khususnya Amerika Serikat.

Meski telah lebih dari satu dekade berlalu, gelaran air show ini memunculkan pertanyaan tentang niat Ethiopia di kawasan, terutama terkait keamanan dan pengaruhnya di Lautan Hindia dan Semenanjung Horn of Africa.

Partisipasi negara seperti Maroko dan Uni Emirat Arab (UAE) menambah dimensi geopolitik. Keduanya memiliki kepentingan strategis, terutama di tengah isu sensitif pengakuan Israel terhadap Somaliland. Ethiopia belum mengakui Somaliland, tapi kedutaannya telah berdiri di Addis Ababa.

Somalia sendiri saat ini tidak memiliki angkatan udara resmi. Namun, pemerintah Mogadishu telah mengoperasikan drone Akindi, Bayraktar, dan sistem taktis dari Turki untuk patroli dan operasi militer.

Teknologi drone ini memberi Somalia kemampuan pengawasan dan serangan presisi, meskipun angkatan udaranya masih terbatas dibanding Ethiopia.

Jika rencana aliansi keamanan Saudi-Mesir-Somalia benar-benar terbentuk, kemungkinan Somalia akan memperoleh pesawat tempur JF-17 buatan Pakistan yang dibeli oleh Saudi.

Pesawat ini direncanakan akan dibagi ke negara-negara sekutu Saudi lainnya, termasuk Sudan, Yaman, dan Suriah, memperkuat jaringan pertahanan di Timur Tengah dan Afrika Timur.

Kehadiran Ethiopia di pameran penerbangan juga menjadi pesan diplomatik. Negeri ini menunjukkan kekuatan militer dan teknologi, sekaligus menegaskan posisi strategisnya di kawasan Horn of Africa.

Abiy Ahmed Ali menekankan bahwa Expo bukan sekadar pameran teknologi, tetapi juga sarana untuk memperkuat kerjasama regional dan membangun kapasitas sumber daya manusia di bidang penerbangan.

Namun, analis militer menyoroti bahwa Ethiopia juga secara tidak langsung menegaskan kemampuan militernya terhadap Somalia, mengingat sejarah invasi dan operasi anti-ICU di masa lalu.

Insiden pada 2006–2009 menunjukkan bahwa meskipun Ethiopia unggul secara konvensional, perlawanan insurgensi Somalia berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang sempat diduduki ICU.

Gelaran air show ini juga memperlihatkan jet tempur, helikopter, dan sistem pertahanan udara Ethiopia yang telah modern dan terus berkembang.

Kekuatan ini menandakan bahwa Ethiopia siap menghadapi ancaman regional dan menjaga pengaruhnya di Horn of Africa.

Pameran ini juga menjadi platform bagi negara-negara seperti Maroko dan UAE untuk menegaskan komitmen mereka terhadap keamanan regional, terutama di pesisir Lautan Hindia.

Somalia, di sisi lain, berupaya memperkuat kapasitas militernya melalui aliansi dan bantuan internasional, termasuk pasokan drone dan rencana akuisisi JF-17.

Persaingan militer di kawasan ini mencerminkan dinamika geopolitik yang kompleks, dengan Ethiopia, Somalia, Saudi, Mesir, dan sekutu lainnya saling memperkuat posisi strategis masing-masing.

Dengan sejarah invasi dan potensi modernisasi angkatan udara Somalia, kawasan Horn of Africa tetap menjadi titik fokus keamanan dan diplomasi internasional di Afrika Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

See

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *