Kamis, 12 Februari 2026

Viral Dialek Arab Hillbilly Tennessee

Sebuah video berdurasi sekitar satu setengah menit di platform X mendadak menjadi perbincangan hangat setelah menampilkan apa yang disebut sebagai “dialek Arab hillbilly” dari Tennessee timur. Unggahan tersebut memicu rasa penasaran sekaligus perdebatan, karena menggambarkan komunitas keturunan migran Suriah yang disebut telah menetap lebih dari seabad dan berbicara bahasa Arab dengan aksen pedesaan Appalachia.

Video itu pertama kali dipopulerkan oleh akun pengguna yang mengklaim adanya koloni penutur asli bahasa Arab di wilayah pegunungan Tennessee. Dalam narasinya, sang pengunggah menyebut dialek tersebut sebagai sesuatu yang unik dan indah, bahkan menutup deskripsinya dengan kalimat “God bless America.” Tayangan itu dengan cepat menembus ratusan ribu penonton dan dibanjiri komentar.

Adegan pembuka video menampilkan seorang pria berpakaian kasual khas pedesaan Amerika berdiri di depan kabin kayu. Ia menyapa seorang perempuan dengan bahasa Arab yang diberi terjemahan bahasa Inggris. Nuansanya sengaja dibuat kontras: salam Arab dipadukan dengan nama-nama stereotip Amerika Selatan seperti “Billy Bob.”

Percakapan dalam video memadukan ungkapan religius seperti “Alhamdulillah” dengan logat Selatan Amerika yang kental. Subtitel Arab dan Inggris ditampilkan bersamaan, mempertegas kesan percampuran dua identitas budaya yang jauh secara geografis namun disatukan dalam sketsa tersebut.

Bagian selanjutnya mengangkat narasi semi-historis yang terdengar fantastis. Seorang tokoh dalam video menyebut teori bahwa leluhur “Arab Tennessee” melarikan diri dari Al-Andalus dan berlayar bersama Christopher Columbus. Teori lain menyebut mereka dikirim untuk membantu Perang Kemerdekaan Amerika dan diberi tanah oleh George Washington.

Narasi itu jelas terdengar satir. Penggabungan sejarah Islam Andalusia dengan Revolusi Amerika dalam satu garis cerita menunjukkan bahwa video tersebut memang dikemas sebagai komedi, bukan dokumenter sejarah. Latar pegunungan Tennessee yang dramatis semakin menegaskan pendekatan artistik yang ringan.

Humor berlanjut ketika tokoh dalam video membahas makanan tradisional Arab seperti fattoush dan masgouf, tetapi dengan tambahan bahan lokal yang tak lazim, seperti tupai liar. Perpaduan kuliner ini menjadi punchline yang menegaskan absurditas konsep “Arab hillbilly.”

Di bagian akhir, video berubah menjadi promosi aplikasi belajar bahasa Arab bernama “Kalam.” Dikisahkan seorang anak kecil belajar melalui aplikasi tersebut hingga berbicara bahasa Arab lebih fasih daripada ayahnya. Sang ayah lalu mengeluh bahwa bahasa anaknya kini terdengar asing baginya.

Struktur video yang mengarah pada promosi aplikasi memperjelas bahwa konten tersebut adalah sketsa komedi berbalut iklan. Meski demikian, ia menyentuh isu nyata tentang pelestarian bahasa di tengah proses asimilasi generasi kedua dan ketiga imigran di Amerika Serikat.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa komunitas Arab-Amerika memang memiliki akar kuat di Tennessee. Laporan media lokal menyebutkan bahwa imigrasi dari Suriah dan wilayah Levant telah terjadi sejak akhir abad ke-19, termasuk keluarga Arbeely yang tiba pada 1878 di Maryville.

Keluarga Arbeely dikenal sebagai kaum terdidik yang melarikan diri dari tekanan Kekaisaran Ottoman. Mereka berkontribusi dalam kehidupan akademik dan sosial, termasuk mendirikan salah satu surat kabar berbahasa Arab awal di Amerika Serikat pada dekade 1890-an.

Seiring waktu, komunitas Arab-Amerika di Tennessee berkembang dan semakin beragam, termasuk gelombang migrasi baru dari Irak dan negara Timur Tengah lainnya pada abad ke-20. Bahasa Arab pun menjadi salah satu bahasa yang cukup luas digunakan di negara bagian tersebut.

Meski demikian, tidak ada bukti akademis atau laporan resmi yang menyebut keberadaan dialek “Arab hillbilly” seperti yang digambarkan dalam video. Komunitas setempat umumnya berbicara bahasa Arab sesuai dialek asal keluarga mereka, sembari fasih berbahasa Inggris dengan aksen lokal Amerika.

Reaksi warganet terhadap video itu terbelah. Sebagian langsung menyadari bahwa tayangan tersebut adalah sketsa komedi dan memujinya sebagai humor kreatif. Komentar populer menyebutnya sebagai “bit yang bagus tapi tidak nyata.”

Pengguna lain menjelaskan bahwa meski komunitas Arab di Tennessee memang ada, mereka tidak berbicara dengan logat seperti dalam video. Penekanan pada unsur “lol” dalam berbagai komentar menunjukkan bahwa banyak yang memahami konteks komedi tersebut.

Namun tidak semua tanggapan bernada positif. Ada pula komentar yang bernuansa intoleran, menyerukan deportasi dan mengkritik keberadaan imigran. Reaksi semacam ini memicu diskusi lebih luas tentang sentimen anti-imigran di ruang digital.

Di sisi lain, sebagian pengguna membandingkan fenomena ini dengan komunitas diaspora lain di dunia, seperti Cina-Meksiko di Mexicali, di mana percampuran bahasa dan aksen mencerminkan proses asimilasi budaya lintas generasi.

Fenomena viral ini pada akhirnya menyoroti dua hal sekaligus: kreativitas humor internet dan realitas keberagaman Amerika modern. Sketsa tersebut mungkin fiksi, tetapi ia bertumpu pada fakta bahwa komunitas Arab-Amerika telah lama menjadi bagian dari mosaik sosial Tennessee.

Di tengah derasnya arus media sosial, video seperti ini menunjukkan bagaimana sejarah migrasi bisa menjadi bahan komedi, promosi, sekaligus perdebatan identitas. Antara tawa dan kontroversi, “dialek Arab hillbilly” menjadi cermin cara dunia digital memaknai keberagaman budaya hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

See

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *